Awalnya, Maret 2011, kelompok-kelompok “pro-demokrasi” yang maju,
menjalankan skenario seperti Tunisia dan Mesir. Mereka berdemo, menuntut
lengsernya Assad demi demokratisasi (karena Assad dan Partai Baath
terlalu lama berkuasa). Meskipun aksi demo tidak tereskalasi (bahkan
yang terjadi adalah demo tandingan dengan jumlah jauh lebih besar untuk
mendukung Assad), pada awal 2012, dilakukan perubahan UUD (antara lain,
masa jabatan presiden maksimal 2 periode dan presiden tidak harus dari
Partai Baath) dan dicabutnya UU Darurat yang dianggap anti HAM.
Para pemimpin oposisi berbasis di Turki, membentuk Syrian National
Council (SNC), lalu berubah jadi SNCORF, dengan didominasi kelompok
Ikhwanul Muslimin (dapat dukungan dana dari AS, Inggris, Perancis,
Qatar, Saudi, dll). Yang mereka inginkan tidak sebatas perubahan
undang-undang, melainkan tergulingnya Assad. Masuklah skenario kedua:
pemberontakan bersenjata. Beberapa tentara Suriah lari ke Turki, dan
mendirikan Free Syrian Army (FSA). SNC berperan mencarikan dukungan dana
untuk FSA. FSA sendiri terdiri dari banyak kelompok dan pasukan mereka
kebanyakan orang-orang asing (non- Suriah).






